Selasa, 13 November 2012

Misteri Di balik Bulan Sura mykoi1 MISTERI BULAN SURA Bulan Sura adalah bulan pertama dalam kalender Jawa. Tanggal 1 Sura akan jatuh pada hari Senin tanggal 29 Desember 2008. Secara lugas maknanya adalah merupakan tahun baru menurut penanggalan Jawa. Bagi pemegang tradisi Jawa hingga kini masih memiliki pandangan bahwa bulan Sura merupakan bulan sakral. Berikut ini saya paparkan arti bulan Sura secara maknawi dan dimanakah letak kesakralannya. MELURUSKAN BERITA “burung” Tradisi dan kepercayaan Jawa melihat bulan Sura sebagai bulan sakral. Bagi yang memiliki talenta sensitifitas indera keenam (batin) sepanjang bulan Sura aura mistis dari alam gaib begitu kental melebihi bulan-bulan lainnya. Tetapi sangat tidak bijaksana apabila kita buru-buru menganggapnya sebagai bentuk paham syirik dan kemusrikan. Anggapan seperti itu timbul karena disebabkan kurangnya pemahaman sebagian masyarakat akan makna yang mendalam di baliknya. Musrik atau syirik berkaitan erat dengan cara pandang batiniah dan suara hati, jadi sulit menilai hanya dengan melihat manifestasi perbuatannya saja. Jika musrik dan syirik diartikan sebagai bentuk penyekutuan Tuhan, maka punishment terhadap tradisi bulan Sura itu jauh dari kebenaran, alias tuduhan tanpa didasari pemahaman yang jelas dan beresiko tindakan pemfitnahan. Biasanya anggapan musrik dan sirik muncul karena mengikuti trend atau ikut-ikutan pada perkataan seseorang yang dinilai secara dangkal layak menjadi panutan. Padahal tuduhan itu jelas merupakan kesimpulan yang bersifat subyektif dan mengandung stigma, dan sikap menghakimi secara sepihak. Masyarakat Jawa mempunyai kesadaran makrokosmos, bahwa Tuhan menciptakan kehidupan di alam semesta ini mencakup berbagai dimensi yang fisik (wadag) maupun metafisik (gaib). Seluruh penghuni masing-masing dimensi mempunyai kelebihan maupun kekurangan. Interaksi antara dimensi alam fisik dengan dimensi metafisik merupakan interaksi yang bersimbiosis mutual, saling mengisi mewujudkan keselarasan dan keharmonisan alam semesta sebagai upaya memanifestasikan rasa sukur akan karunia terindah dari Tuhan YME. Sehingga manusia bukanlah segalanya di hadapan Tuhan, dan dibanding mahluk Tuhan lainnya. Manusia tidak seyogyanya mentang-mentang mengklaim dirinya sendiri sebagai mahluk paling sempurna dan mulia, hanya karena akal-budinya. Selain kesadaran makrokosmos, sebaliknya di sisi lain kesadaran mikrokosmos Javanisme bahwa akal-budi ibarat pisau bermata dua, di satu sisi dapat memuliakan manusia tetapi di sisi lain justru sebaliknya akan menghinakan manusia, bahkan lebih hina dari binatang, maupun mahluk gaib jahat sekalipun. Berdasarkan dua dimensi kesadaran itu, tradisi Jawa memiliki prinsip hidup yakni pentingnya untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian alam semesta agar supaya kelestarian alam tetap terjaga sepanjang masa. Menjaga kelestarian alam merupakan perwujudan syukur tertinggi umat manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah menganugerahkan bumi ini berikut seluruh isinya untuk dimanfaatkan umat manusia. Dalam tradisi Jawa sekalipun yang dianggap paling klenik sekalipun, prinsip dasar yang sesungguhnya tetaplah PERCAYA KEPADA TUHAN YME. Di awal atau di akhir setiap kalimat doa dan mantra selalu diikuti kalimat; saka kersaning Gusti, saka kersaning Allah. Semua media dalam ritual, hanya sebatas dipahami sebagai media dan kristalisasi dari simbol-simbol doa semata. Doa yang ditujukan hanya kepada Tuhan Yang Maha Tunggal. Prinsip tersebut memproyeksikan bahwa kaidah dan prinsip religiusitas ajaran Jawa tetap jauh dari kemusrikan maupun syirik yang menyekutukan Tuhan. Cara pandang tersebut membuat masyarakat Jawa memiliki tradisi yang unik dibanding dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Tipikal tradisi Jawa kental akan penjelajahan wilayah gaib sebagai konsekuensi adanya interaksi manusia terhadap lingkungan alam dan seluruh isinya. Lingkungan alam dilihat memiliki dua dimensi, yakni fana/wadag atau fisik, dan lingkungan dimensi gaib atau metafisik. Lingkungan alam tidak sebatas apa yang tampak oleh mata, melainkan meliputi pula lingkungan yang tidak tampak oleh mata (gaib). Boleh dikatakan pemahaman masyarakat Jawa akan lingkungan atau dimensi gaib sebagai bentuk “keimanan“ (percaya) kepada yang gaib. Bahkan oleh sebagian masyarakat Jawa, unsur kegaiban tidak hanya sebatas diyakini atau diimani saja, tetapi lebih dari itu seseorang dapat membuktikannya dengan bersinggungan atau berinteraksi secara langsung dengan yang gaib sebagai bentuk pengalaman gaib. Oleh karena itu, bagi masyarakat Jawa dimensi gaib merupakan sebuah realitas konkrit. Hanya saja konkrit dalam arti tidak selalu dilihat oleh mata kasar, melainkan konkrit dalam arti Jawa yakni termasuk hal-hal yang dapat dibuktikan melalui indera penglihatan maupun indera batiniah. Meskipun demikian penjelasan ini mungkin masih sulit dipahami bagi pihak-pihak yang belum pernah samasekali bersinggungan dengan hal-hal gaib. Sehingga cerita-cerita maupun kisah-kisah gaib dirasakan menjadi tidak masuk akal, sebagai hal yang mustahal, dan menganggap pepesan kosong belaka. Pendapat demikian sah-sah saja, sebab tataran pemahaman gaib memang tidak semua orang dapat mencapainya. Yang merasa mampu memahamipun belum tentu tapat dengan realitas gaib yang sesungguhnya. Sedangkan agama sebatas memaparkan yang bersifat universal, garis besar, dan tidak secara rinci. Perincian mendetail tentang eksistensi alam gaib merupakan rahasia ilmu Tuhan Yang Maha Luas, tetapi Tuhan Maha Adil tetap memberikan kesempatan kepada umat manusia untuk mengetahuinya walaupun sedikit namun dengan sarat-sarat yang berat dan tataran yang tidak mudah dicapai. MISTERI BULAN SURA Bulan Sura adalah bulan baru yang digunakan dalam tradisi penanggalan Jawa. Di samping itu bagi masyarakat Jawa adalah realitas pengalaman gaib bahwa dalam jagad makhluk halus pun mengikuti sistem penanggalan sedemikian rupa. Sehingga bulan Sura juga merupakan bulan baru yang berlaku di jagad gaib. Alam gaib yang dimaksudkan adalah; jagad makhluk halus ; jin, setan (dalam konotasi Jawa; hantu), siluman, benatang gaib, serta jagad leluhur ; alam arwah, dan bidadari. Antara jagad fana manusia (Jawa), jagad leluhur, dan jagad mahluk halus berbeda-beda dimensinya. Tetapi dalam berinteraksi antara jagad leluhur dan jagad mahluk halus di satu sisi, dengan jagad manusia di sisi lain, selalu menggunakan penghitungan waktu penanggalan Jawa. Misalnya; malam Jum’at Kliwon (Jawa; Jemuah) dilihat sebagai malam suci paling agung yang biasa digunakan para leluhur “turun ke bumi” untuk njangkung dan njampangai (membimbing) bagi anak turunnya yang menghargai dan menjaga hubungan dengan para leluhurnya. Demikian pula, dalam bulan Sura juga merupakan bulan paling sakral bagi jagad makhluk halus. Mereka bahkan mendapat “dispensasi” untuk melakukan seleksi alam. Bagi siapapun yang hidupnya tidak eling dan waspada, dapat terkena dampaknya. Dalam siklus hitungan waktu tertentu yang merupakan rahasia besar Tuhan, terdapat suatu bulan Sura yang bernama Sura Duraka. Disebut sebagai bulan Sura Duraka karena merupakan bulan di mana terjadi tundan dhemit. Tundan dhemit maksudnya adalah suatu waktu di mana terjadi akumulasi para dedemit yang mencari “korban” para manusia yang tidak eling dan waspadha. Karena pada bulan-bulan Sura biasa para dedhemit yang keluar tidak sebanyak pada saat bulan Sura Duraka. Sehingga pada bulan Sura Duraka biasanya ditandai banyak sekali musibah dan bencana melanda jagad manusia. Bulan Sura Duraka ini pernah terjadi sepanjang bulan Januari s/d Februari 2007. Musibah banyak terjadi di seantero negeri ini. 1) Di awali tenggelamnya KM Senopati di laut Banda yang terkenal sebagai palung laut terdalam di wilayah perairan Indonesia. Kecelakaan ini memakan korban ratusan jiwa. 2) Kecelakaan Pesawat Adam Air hilang tertelan di palung laut dekat teluk Mandar, posisi di 40 mil barat laut Majene. 3) Kereta api mengalami anjlok dan terguling sampai 3 kali kasus selama sebulan. 4) Tabrakan bus di pantura, bus menyeruduk rumah penduduk. 5) Kecelakaan pesawat garuda di Yogyakarta. 6) Beberapa maskapai penerbangan mengalami gagal take off, gagal landing, mesin error dsb. 7) Jakarta dilanda banjir terbesar sepanjang masa. 8) Kapal terbakar di Sulawesi dan maluku. 9) Kapal laut di selat Karimun terbakar lalu tenggelam memakan ratusan korban berikut wartawan TV peliput berita. 10) Banjir besar di Jawa Tengah, Angin puting beliung sepanjang Pulau Jawa-Sumatra. Dan masih banyak lagi kecelakaan pribadi yang waktu itu Kapolri sempat menyatakan sebagai bulan kecelakaan terbanyak meliputi darat, laut dan udara. Atas beberapa uraian pandangan masyarakat Jawa tersebut kemudian muncul kearifan yang kemudian mengkristal menjadi tradisi masyarakat Jawa selama bulan Sura. Sedikitnya ada 5 macam ritual yang dilakukan menjelang dan selama bulan Sura seperti berikut ini; 1. Siraman malam 1 Sura; mandi besar dengan menggunakan air serta dicampur kembang setaman. Sebagai bentuk “sembah raga” (sariat) dengan tujuan mensucikan badan, sebagai acara seremonial pertanda dimulainya tirakat sepanjang bulan Sura; lantara lain lebih ketat dalam menjaga dan mensucikan hati, fikiran, serta menjaga panca indera dari hal-hal negatif. Pada saat dilakukan siraman diharuskan sambil berdoa memohon keselamatan kepada Tuhan YME agar senantiasa menjaga kita dari segala bencana, musibah, kecelakaan. Doanya dalam satu fokus yakni memohon keselamatan diri dan keluarga, serta kerabat handai taulan. Doa tersirat dalam setiap langkah ritual mandi. Misalnya, mengguyur badan dari ujung kepala hingga sekujur badan sebanyak 7 kali siraman gayung (7 dalam bahasa Jawa; pitu, merupakan doa agar Tuhan memberikan pitulungan atau pertolongan). Atau 11 kali (11 dalam bahasa Jawa; sewelas, merupakan doa agar Tuhan memberikan kawelasan; belaskasih). Atau 17 kali (17 dalam bahasa Jawa; pitulas; agar supaya Tuhan memberikan pitulungan dan kawelasan). Mandi lebih bagus dilakukan tidak di bawah atap rumah; langsung “beratap langit”; maksudnya adalah kita secara langsung menyatukan jiwa raga ke dalam gelombang harmonisasi alam semesta. 2. Tapa Mbisu (membisu); tirakat sepanjang bulan Sura berupa sikap selalu mengontrol ucapan mulut agar mengucapkan hal-hal yang baik saja. Sebab dalam bulan Sura yang penuh tirakat, doa-doa lebih mudah terwujud. Bahkan ucapan atau umpatan jelek yang keluar dari mulut dapat “numusi” atau terwujud. Sehingga ucapan buruk dapat benar-benar mencelakai diri sendiri maupun orang lain. 3. Lebih Menggiatkan Ziarah; pada bulan Sura masyarakat Jawa lebih menggiatkan ziarah ke makam para leluhurnya masing-masing, atau makam para leluhur yang yang dahulu telah berjasa untuk kita, bagi masyarakat, bangsa, sehingga negeri nusantara ini ada. Selain mendoakan, ziarah sebagai tindakan konkrit generasi penerus untuk menghormati para leluhurnya (menjadi pepunden). Cara menghormati dan menghargai jasa para leluhur kita selain mendoakan, tentunya dengan merawat makam beliau. Sebab makam merupakan monumen sejarah yang dapat dijadikan media mengenang jasa-jasa para leluhur; mengenang dan mencontoh amal kebaikan beliau semasa hidupnya. Di samping itu kita akan selalu ingat akan sangkan paraning dumadi. Asal-usul kita ada di dunia ini adalah dari turunan beliau-beliau. Dan suatu saat nanti kita semua pasti akan berpulang ke haribaan Tuhan Yang maha Kuasa. Mengapa harus datang ke makam, tentunya atas kesadaran bahwa semua warisan para leluhur baik berupa ilmu, kebahagiannya, tanah kemerdekaan, maupun hartanya masih bisa dinikmati hingga sekarang, dan dinikmati oleh semua anak turunnya hingga kini. Apakah sebagai keturunannya kita masih tega hanya dengan mendoakan saja dari rumah ? Jika direnungkan secara mendalam menggunakan hati nurani, sikap demikian tidak lebih dari sekedar menuruti egoisme pribadi (hawa nafsu negatif) saja. Anak turun yang mau enaknya sendiri enggan datang susah-payah ke makam para leluhurnya, apalagi terpencil nun jauh harus pergi ke pelosok desa mendoakan dan merawat seonggok makam yang sudah tertimbun semak belukar. Betapa teganya hati kita, bahkan dengan mudahnya mencari-cari alasan pembenar untuk kemalasannya sendiri, bisa saja menggunakan alasan supaya menjauhi kemusyrikan. Padahal kita semua tahu, kemusyrikan bukan lah berhubungan dengan perbuatan, tetapi berkaitan erat dengan hati. Jangan-jangan sudah menjadi prinsip bawah sadar sebagian masyarakat kita, bahwa lebih enak menjadi orang bodoh, ketimbang menjadi orang winasis dan prayitna tetapi konsekuensinya tidak ringan. 4. Menyiapkan sesaji bunga setaman dalam wadah berisi air bening. Diletakkan di dalam rumah. Selain sebagai sikap menghargai para leluhur yang njangkung dan njampangi anak turun, ritual ini penuh dengan makna yang dilambangkan dalam uborampe. Bunga mawar merah, mawar putih, melati, kantil, kenanga. Masing-masing bunga memiliki makna doa-doa agung kepada Tuhan YME yang tersirat di dalamnya (silahkan dibaca dalam forum tanya jawab). Bunga-bungaan juga ditaburkan ke pusara para leluhur, agar supaya terdapat perbedaan antara makam seseorang yang kita hargai dan hormati, dengan kuburan seekor kucing yang berupa gundukan tanah tak berarti dan tidak pernah ditaburi bunga, serta-merta dilupakan begitu saja oleh pemiliknya berikut anak turunnya si kucing. 5. Jamasan pusaka; tradisi ini dilakukan dalam rangka merawat atau memetri warisan dan kenang-kenangan dari para leluhurnya. Pusaka memiliki segudang makna di balik wujud fisik bendanya. Pusaka merupakan buah hasil karya cipta dalam bidang seni dan ketrampilan para leluhur kita di masa silam. Karya seni yang memiliki falsafah hidup yang begitu tinggi. Selain itu pusaka menjadi situs dan monumen sejarah, dan memudahkan kita simpati dan berimpati oleh kemajuan teknologi dan kearifan lokal para perintis bangsa terdahulu. Dari sikap menghargai lalu tumbuh menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi generasi penerus bangsa agar berbuat lebih baik dan maju di banding prestasi yang telah diraih para leluhur kita di masa lalu. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para leluhurnya, para pahlawannya, dan para perintisnya. Karena mereka semua menjadi sumber inspirasi, motivasi dan tolok ukur atas apa yang telah kita perbuat dan kita gapai sekarang ini. Dengan demikian generasi penerus bangsa tidak akan mudah tercerabut (disembeded) dari “akarnya”. Tumbuh berkembang menjadi bangsa yang kokoh, tidak menjadi kacung dan bulan-bulanan budaya, tradisi, ekonomi, dan politik bangsa asing. Kita sadari atau tidak, tampaknya telah lahir megatrend terbaru abad ini, sekaligus paling berbahaya, yakni merebaknya bentuk the newest imperialism melalui cara-cara politisasi agama. 6. Larung sesaji; larung sesaji merupakan ritual sedekah alam. Uborampe ritual disajikan (dilarung) ke laut, gunung, atau ke tempat-tempat tertentu. Tradisi budaya ini yang paling riskan dianggap musrik. Betapa tidak, jikalau kita hanya melihat apa yang tampak oleh mata saja tanpa ada pemahaman makna esensial dari ritual larung sesaji. Baiklah, berikut saya tulis tentang konsep pemahaman atau prinsip hati maupun pola fikir mengenai tradisi ini. Pertama; dalam melaksanakan ritual hati kita tetap teguh pada keyakinan bahwa Tuhan adalah Maha Tunggal, dan tetap mengimani bahwa Tuhan Maha Kuasa menjadi satu-satunya penentu kodrat. Kedua; adalah nilai filosofi, bahwa ritual larung sesaji merupakan simbol kesadaran makrokosmos yang bersifat horisontal, yakni penghargaan manusia terhadap alam. Disadari bahwa alam semesta merupakan sumber penghidupan manusia, sehingga untuk melangsungkan kehidupan generasi penerus atau anak turun kita, sudah seharusnya kita menjaga dan melestarikan alam. Kelestarian alam merupakan warisan paling berharga untuk generasi penerus. Ketiga; selain kedua hal di atas, larung sesaji merupakan bentuk interaksi harmonis antara manusia dengan seluruh unsur alam semesta. Disadari pula bahwa manusia hidup di dunia berada di tengah-tengah lingkungan bersifat kasat mata atau jagad fisik, maupun gaib atau jagad metafisik. Kedua dimensi jagad tersebut saling bertetanggaan, dan keadaannya pun sangat kompleks. Manusia dan seluruh makhluk ciptaan Tuhan seyogyanya menjaga keharmonisan dalam bertetangga, sama-sama menjalani kehidupan sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Sebaliknya, bilamana dalam hubungan bertetangga (dengan alam) tidak harmonis, akan mengakibatkan situasi dan kondisi yang destruktif dan merugikan semua pihak. Maka seyogyanya jalinan keharmonisan sampai kapanpun tetap harus dijaga.

Minggu, 21 Oktober 2012

FALSAFAH ORANG JAWA. KAUTAMANING LAKU

۩۩۩ PUPUH I ۩۩۩ DHANDHANGGULA 1. Raras ingkang sêkar dhandhanggêndhis, dénirarsa ngarang kang carita, maspadakkên kayêktèné, jatiné kang sastrayu, yasanira Sang Hyang Pramèsthi, surasa kang winahya, sing gaib linuhung, parmaning hyang sung sasmita, talêcêring kawruh sandining ngaurip, ning kawruh Surakarta. 2. Yèku sastra jêndra yuning bumi, kang wus umum kagêm pra naréndra, Tanah Jawa salawasé, nanging arang kang wêruh, surasané kang sastra gaib, sastra lungit têgêsnya, landhêp mêmpanipun, mula kang para sarjana, samya limpat lêpasing graita lantip, wruh sêmu lan sasmita. 3. Wruhing wadi lêpasing pambudi, wikan marang sasmitaning suksma, luwih cêthèk graitané, paham marang ing têmbung, nora kéwran ing agal alit, arja rahayu datnya , slamêt têgêsipun, éndra asmaning Hyang Éndra, makna gunung pratandha yèn kawruh inggil, agêmé pra naréndra. 4. Iku wiji saking sastra gaib, lamun wignya wikan kaanannya, yèku wong langgêng uripé, wruh urip ngandhap ruhur, iku kayun ngêtahraèni, sampurna uripira, rampung têgêsipun, bisa ngasalkên rohira, kasar a-[2]lus bali mring gonira nguni, kalawan kodrating hyang. 5. Kang mangkana wus prakara pasthi, nanging cacaté para pandhita, arang kang mêlok tuduhé, karya sêmang ing kalbu, têmah arang janma udani, mula para jawata, budi yêktènipun, kang sastra jéndra yuningrat, éwadéné pra jawata sami mingit, dadiné kanyataan. 6. Dhawuhira Hyang Jagad Pramèsthi, sing sapa wruh kang sastra harjéndra, têtêp wêruh ing uripé, yèku manungsa luhung, uripira padha narpati, têtêp rahayu ningrat, slamêt ing sakayun, tan kéwran ing nginggil ngandhap, jaba jêro wus kawêngku wong utami, suprandéné sinamar. 7. Lêlakoné nguni sri bupati, Maéspati Sri Arjunasasra-, bau nguni caritané, warangkanya sang prabu, ajêjuluk Suwanda Agni, têgês nunggal sawanda, patih lawan ratu, mula Sri Arjunasasra, wus tan ingasaréh pangolahing nagri, dènsrahkên mring Suwanda. 8. Nadyan nuju siniwèng wadyaji, kyana patih kang lênggah séwaka, wus tan siwah lan ratuné, wadyagung tano wêruh, lamun iku rêkyanapatih, tan wruh yèn sri naréndra, nèng sawangan laut, iku pêrlambang kang nyata, sri naréndra dad maha ruhur kang yêkti, Suwanda dad mutêlak. 9. [3] Sêksi mursit duk Suwanda jurit, kasoring prang lan Prabu Rahwana, Sri Bupati agé – agé, nulya kondur ngêdhatun, mijiling prang Rahwana kêni, binanda wus kasoran, nanging sang aprabu, nuli anututi mukswa, wit tan kêna pisah lan Suwanda patih, kaki iku rasakna. 10. Amangsuli carita ing inggil, wanci dalu gara kasih rinya, Sang Hyang Guru dhawuhaké, mring Hyang Kanéka Sunu, arsa têdhak cangkraméng wukir, pucuking Jamurdipa, arsa buka kawruh, kawruh sêngkêraning déwa, mila sagung jawata kang alul ngèlmi, sami dhèrèk mring arga. 11. Hyang Nurasa kang minangka tindhih, kalihira Bathara Sriyana, tiga Hyang Tikswa karané, Sang Rêsi Kandya catur, gangsal Sang Hyang Janaka rêsi, lan putra kang sakawan, Hyang Éndra tan kantun, myang kang rayi sang Hyang Brahma Sang Hyang Bayu: Hyang Wisnu sakawanèki, kinèn dhèrèk kang rama. 12. Sapraptaning Jamurdipa wukir, samya satata lênggah nèng pucak, Sang Hyang Guru andikané, mring Hyang Kanéka Sunu, hèh ta kakang paran ing kapti, saréhing jênêng para, lawan jênêng ingsun, dadi pandumaning jagad, kabèh janma ngidhêp sira lawan mami, myang sagung sato kéwan. 13. Kabèh mau pracaya ing mami, lahir batin anyebut maring wang, mula kakang ing samang-[4]ké, ywa kongsi gawé kusut, sadurungé bêcik pinikir, têrang ing sangkan paran, lan jatining kawruh, bédané gusti kawula, dumunungé campuré kawula gusti, hèh kakang babarêna. 14. Kang sipat ji lan kang ji puniki, nadyan mêlok wus sawang – sinawang, nanging paran pratingkahé, ing bèruk dhaupipun, wor ing ngisor kalawan nginggil, kakang iku tan gampang, kêplasing kang luyub, yèn tan titis dadi kéwan, ana uga pacama nuksma mring kirik, pitik iwèn lan mina. 15. Wruhanira kakang karsa mami, kang kinarya wiji sêkar pisang, ing janaloka ênggoné, nèng dhadha dunungipun, bétal mukaram wong Banisrail, yèku wijining janma, kang tan kêna lêbur, dènaraning pancadriya, ingkang dadi paugêraning wong ngurip, uripé ngrêcapada. 16. Aja nganti klèru ing pamanggih, mung kang sipat ji lawan ingkang ji, loro iku kudu gèsèh, lan kang muni ing dhuwur, nanging datan pisah ing bénjing, sipat ji lan ingkang ji, sayêktiné dhaup, langgêng datan kêna owah, nanging misih salawasé anyamati, marang dad mutlak dunya. 17. Pra pandhita padha angarani, dad muntêlak iku sêkar pisang, jêjantung kakang jatiné, déné dad maha ruhur, kang sipat ji winêngku déning, [5] kang urip tanpa jiwa, béda lan jêjantung, sariné mring pancamaya, ingkang bacut lan kang bali dènastiti, aja dupèh wus wikan. 18. Wit kang bacut lawan ingkang bali, tunggal rupa nanging séjé warna, mung alus kasar bédané, kang nèng janalokèku, tunggal giriloka wus pasthi, wit iku marga mulya, kang tan kêna luput, kang ana ing janaloka, kudu nyangkêr kang nèng éndraloka nênggih, yèku bétal mukadas. 19. Bétal mukaram janalokèki, bétal makmur iku giriloka, têtêp triloka arané, yèn wus mêngku tri iku, mung ngawasna kang urip suci, mlinjung têngah bawana, ingkang thênguk – thênguk, kang tan lanang tan wanita, yêkti langgêng urip tan kêna ing pati, tan ana kara – kara. 20. Hèh ta kakang karsa ingsun mangkin, rèhning kabèh para yoganing wang, duwé tékat dhéwé – dhéwé, mrih bisa nunggal kawruh, lan pratitis nyatané sami, payo sira badhéya, ing patakon ingsun, sadurungé ana cahya, misih awang uwung jagad durung dadi, ana swara kapyarsa. 21. Kaya gêntha kêkêlèng dumêling, lah ta sapa iku kang nyuwara, lan sapa kang ngrungu kuwé, lan sapa kang asung wruh, lan kang ngingsêp angrasa sami, apa ingkang mangkana, tan ingaran iku, padha mangéran kumandhang, nadyan mangran ku-[6]mandhang ana kang kardi, mara sira babarna. 22. Kayêkténé kang kadya punapi, lah wêdharna kakang babar pisan, ywa kongsi klèru ancasé, Sang Hyang Kanéka Sunu, duk miyarsa gêtêring galih, déné kinèn ambuka, sajatining kawruh, mangka yèn kongsi kawêdhar, nadyan kéwan yèku ngutuk nugrahadi, ruwat cintrakanira. 23. Hyang Nurada aturira aris, dhuh pukulun sang musthikèng jagad, ulun drêmi mêdharaké, gaib dad maha ruhur, ingkang langgêng tan owah gingsir, pojaré guru kula, risang maha wiku, raja pandhita malangkah, mangsiduni paparab Sang kardan sidik, makatên dhawuhira. 24. Kawruhana sasmita kang yêkti, witing ana iku saka ora, nanging ana kaanané, anané tanpa wujud, wujudira ingkang nganani, yêktiné ora ana, anané ngêndhanu, anglimputi sabuwana, kongsi sirna déné suwara puniki, ulihna kang akarya. 25. Ngawruhana bongkot pucuknèki, dadi wêruh marang kang nyuwara, yèku ing ngêning dunungé, nêng ning ingkang wus kasub, ing buwana ingaran gaib, liring gaib pan samar, panguwasanipun, déné ana ing pangéran, iku pasthi anèng pangira kang êning, mula dadi prêlambang. 26. Duk nalika awang – awang nguni, uwung – uwung wus ana suwara, kapiyarsa kaya déné, [7] gêntha kêkêlèng iku, mungguh awang – uwung puniki, ngadam makdum yêktinya, batin lugonipun, dumênglinging gêntha munya, witing krungu sajatiné saka osik, witing osik punika. 27. Sing karêntêg witing krêntêg singgih, saking têtêg witing têtêg nyata, saking santosa wijilé, santosa asalipun, saking êning ênêng puniki, sing êning asalira, mula bukanipun, yèku kajatèning karsa, kang ingaran kontha sipat kang sajati, iya jatining sipat. 28. Kuwasané nèng dunya kang kèksi, wiwarané sumaruwung ana, ubalé pancadriyané, pangucap marganipun, saking lésan pangisêp nênggih, margané saking grana, pamyarsa dumunung, nèng karna paningal ika, anèng nétra déné pangrasa kang yêkti, manggon pantoging karsa. 29. Pramulané dèn arani sami, ora rupa miwah datan warna, marga rupa sipat kabèh, tan arah tan wismèku, ning nglimputi isining bumi, kabèh panggonan umad, kosok balikipun, ênggon marga rupa sipat, kabèh iki sing warna rupanirèki, tan prênah tan sasana. 30. Ėnggonira ingkang dèn ênggoni, ya mulané isbating pangéran, tan tutuk grana karnané, anétra têgêsipun, yèn ngandika ngagêm sirèki, gonda tuwin miyarsa, ya ngagêm sirèku, apa manèh yèn tumingal, pasthi ngagê-[8]m marang nétranta sajati, wruh liring rupa warna. 31. Pangrasanya ya nyilih sirèki, kang kinarya angrasa dikarsa, dadi ésik11 sajatiné, dhuh sampun adhi Guru, kados sampun nyêkapi yêkti, kanggé ing putra wayah, bêtuwah ing pungkur, nadyan gèsèh patrapira, nêring cipta campuring kawula gusti, yêkti tan sagêd onya. 32. Mung nêng êning awas sarta éling, yèn wus katon kang macu cahyanya, jumênêng anèng ngarsané, yèku dad maha ruhur, gêsang langgêng tanpa piranti, mlinjung têngah bawana, prabawané kumyus, mancuring cahya akarya, kumêsaring cipta wit kapadhaning sih, clorot paran pinaran. 33. Yèku campuring kawula gusti, wus kêtogan kawruh Buda Islam, mung punika gayuhané, kang sipat ji puniku, pan ngêdhaton kang bangal singgih, iku jatiné pangran, kang asung pituduh, waskitha ing sangkan paran, langsung nikmat mupangat ing awal akir, yèku Allah nonoman. ۩۩۩ PUPUH II ۩۩۩ SINOM 1. Têlas aturé Hyang Nrada, Sang Hyang Guru sukèng galih, panggêlaré Hyang Nurada, mêlok tanpa aling – aling, wosing jiwangga kèksi, pra jawata sukèng kalbu, déné wruh urip mulya, kang langgêng tan kêna gingsir, luwih mulya uripé datanpa jiwa. 2. Hyang Giri Nata ngandika, hèh kakang Kanéka Siwi, bangê-[9]t panarimaning wang, nanging mêngko karsa mami, kabèh kang para rêsi, padha darbéa pamangguh, padha anambahana, utamané kawruh iki, apa manèh lamun ana kang sulaya. 3. Ywa éwuh amajahana, mrih bisa jumbuh kang ngèlmi, bésuk dadiya bêtuwah, anak putu ingkang kèri, Hyang Nurada lon angling, hèh Sriyana sira kudu, nocokên kawruhira, ing tékat mrih bisa sami, nêmbah maturi Sang Bathara Sriyana. 4. Yèku Sang Hyang Panyarikan, dhuh pukulun Hyang Pramèsthi, kawruhipun Hyang Nurada, punika sampun prayogi, cocog lan kawruh mami, kados sampun botên luput, mênggah pamanggih amba, wujuding pangéran gusti, ulun ringkês kantha warna ganda rahsa. 5. Catur martabat punika, kantha têgêsipun nênggih, jênggêrêng wujud kang samar, warna têgêsipun singgih, tulisan kang kinardi, warana ananing wujud, wujud ingkang sanyata, ganda dèn têgêsi nênggih, pan puniku rahsaning pangambonira. 6. Déné pangrasa punika, antara sajroning osik, mung krasa ngêdalkên rêmbag, kang tan mêdal manah suci, kosok wangsulé malih, purwaning jagad puniku, lan wasananing jagad, riningkês kalih prakawis, thok thêlipun mung gusti lawan kawula. 7. Lan alus kalawan kasar, lêmbut wadhag urip mati, rina wêngi sapadhanya, wujud kêmbar iku [10] pasthi, têtêp liling – liniling, wit wujud janggêlêga iku, sing janggêrêng gasalnya, janji wujud sami prapti, yèn kawula wus pracaya nut ing karsa. 8. Sayêkti wus datan cidra, lir Krêsna lan Wisnu Murti, lir sato lawan rimbagan, kèndêl Sriyana turnèki, suka Sang Hyang Pramèsthi, déné tan gèsèh turipun, Nurada lan Sriyana, nulya Hyang Takswaka aglis, nêmbah matur anggêlarkên kawruhira. 9. Dhuh pukulun yèn kawula, mênggah pangéran kang yêkti, mung saking pangèsthi amba, kang sampun ulun sungkêmi, tandhaning pangyasèki, wontên panyiptaning kalbu, waton ambêg sucipta, sagêd ning yêkti pinanggih, kang sinêdya botên lêpat pasthi nyata. 10. Mila parluning kawula, kêdah gulangên nêng êning, mirit ibarat Arjuna, lir banyu jun pamanèki, janji tan kungkah – kungkih, yêkti mênêp toyanipun, pasthi nyarong katingal, nyirnakkên onênging galih, yèn tan mawa onêng yêkti wus sawarna. 11. Langgêng ing salawasira, nèng balé baka swargadi, roh kasar wus kasarira, wus nunggal ing rahsa jati, tan kéwran ing pangèksi, osik pangandika jumbuh, yèku tétép pangéran, kèndêl aturé Sang rêsi, Sang Hyang Guru langkung sukaning wardaya. 12. Tan béda ancasing karsa, mung trap – patrap datan sami, dawa têrang cêndhak pêpak, [11] gantya Hyang Janaka rêsi, matur ing Hyang Pramèsthi, dhuh pukulun lamun ulun, manungsa lan jawata, tan béda praptaning pati, kang ingaran pangéran pan amung gêsang. 13. Wit obah mosiking cipta, murba masésa sayêkti, marang jagadé priyangga, mrana yèn koncatan pasthi, osik sayêkti mati, patiné yêkti sumusup, manjing dhatêng ing gêsang, kang langgêng salawasnèki, mung punika pantogé kawruh kawula. 14. Suka Hyang Jagad Pratingkah, Hyang Rêsi Kanwa nambungi, angaturkên kawruhira, dhuh pukulun Hyang Pramèsthi, tékat kawula naming, wontên isênên pukulun, inggih sênêning cahya, déné sagunging dumadi, lamun ical sênênipun yêkti pêjah. 15. Mênggah pêjahing manungsa, pasthi nusup gêsang malih, mulya ing salaminira, mung punika kawruh mami, kèndêl turé sang rêsi, Hyang Guru suka ing kalbu, déné sadaya sama, kawruhé kang para rêsi, cocog lawan kawruhé Rêsi Nurada. 16. Tan paé Hyang Girinata, cipta sasmitané sami, wijining adadi ika, kang dhingin amung sawiji, yèku têlênging janmi, minangka kraton hyang agung, hyang suksma maha mulya, hyang manon hyang maha suci, Hyang Pramèsthi mangkana andikanira. 17. Hèh kulup Éndra lan Brahma, Bayu Wisnu dipun aglis, kapriyé panêmunira, payo gêlar-[12]ên dèn aglis, mrih tunggal éka kapti, Hyang Éndra sigra umatur, mêdharkên kawruhira, mênggah sajatosing urip, yèn kawula mung dumunung nèng pangéran. 18. Kang sumusup ing buwana, kabèh nyawa ning sêkalir, kang dumêlah anèng jagad, tan liya dayaning siti, yèku ran maha suksci, wignya nyampurnakkên wujud, barang dèn pêndhêm sirna, miwah thêthukulan sami, tan lyan saking kamurahaning bantala. 19. Wisma miwah sandhang pangan, tan lyan sing bantala sami, yèku kang murah ing dunya, ngingoni sagung kumêlip, nadyan praptaning pati, dèn kêmuli bumi iku, mula ran sih ngakérat, kabèh wadhag saking siti, pêdhês asin sêdhêp sari – sari samya. 20. Gumêlar anèng bantala, sampurnané anèng bumi, mung punika kawruh amba, kèndêl Hyang Éndra turnèki, suka Sang Hyang Pramèsthi, dènya myarsakakên atur, anulya Sang Hyang Brahma, nêmbah ngaturkên pamanggih, dhuh pukulun yèn kawula mung dahana. 21. Dahana langkung kuwasa, sagêd anglêbur sakalir, kabèh brastha ing dahana, tur linggih sagêd gêsangi, ngratêngi barang kalir, agêng pitulunganipun, kang kêkêl sagêd akas, lan dados uwiting osik, nadyan pêtêng padhangé saking dahana. 22. Lan kang kocap jitabsara, jagad sadèrèngé da-[13]di, awang – uwung durung ana, mung dahana kang kaèksi, nèng alam sonya ruri, mung cahya ingkang kadulu, tondha lamun dahana, punika sêpuh pribadi, sang Hyang Brahma nêmbah kèndêl aturira. 23. Suka Hyang Guru miyarsa, Bathara Bayu wotsari, angaturkên kawruhira, mênggah sajatining urip, sayêkti namung angin, inganggêp pangéran agung, sadaya janma gêsang, uripé kalawan angin, nadyan kéwan pitik iwèn nganggo napas. 24. Nadyan kabèh thêthukulan, uripé kalawan angin, lamun angin datan ana, yêkti kabèh iki mati, kakayon agêng alit, yêkti gogrog êronipun, apês purêt godhongnya, déné grananing sujanmi, mapan bangkit panas adhêm saking napas. 25. Rasa pangrasa punika, panariking saking angin, dalah sumusuping suksma, yêkti mring sarining angin, mring ancang–ancang sami, tumlawung ing awang wangsul, isêp ing ngisêp samya, dènanggo urip sabumi, nêmbah mundur Hyang Bayu têlas turira. 26. Suka Hyang Jagad Pratingkah, myarsa turé putra kalih, kalihe malêbu rahsa, rahsa wijining adadi, Bathara Wisnu aglis, nêmbah ing Bathara Guru, pukulun yèn kawula, mênggah sajatining urip, datan wontên kajawiné namung toya. 27. Wit toya gêsang priyangga, boya wontên kang gêsangi, suprandéné pa-[14]n kuwasa, gêsangi urip sabumi, myang kabèh kang kumêlip, sadaya gêsang sing banyu, garinting kalamênta, gêsangipun saking warih, ingkang sipat jiwa wiji saking toya. 28. Mani madi darah êrah, tan lyan toya ingkang dadi, dalah wujud kasênênan, suksci inggih saking warih, langgêng tan owah gingsir, dèn cidhuk nora marêngguk, pulih sami sakala, déné najis badhêg kêcing, sagêd sirna suksci sing dayaning tirta. 29. Nadyan pêjah lamun mulya, yêkti pulih dados warih, pramila cara kawula, yèn pêjah linarung kali, mrih mulih ênêng êning, sumusuping cahya agung, cahya pan inggih toya, mung punika kawruh mami, nêmbah mundur Hyang Wisnu kèndêl turira. 30. Sukéng tyas Hyang Jagad Nata, myang rêsi Kanéka Siwi, déné turé putra kapat, lan rêsi lima wus sami, dadya praboting ngèlmi, baya takdiring Hyang Agung, para jawata sanga, panêmuné dadi siji, turé putra sakawan dadi martabat. 31. Yèku sir patang prakara, lêmah gêni angin warih, déné turé rêsi lima, dadi mudah panca warni, wadhahing maha suksci, Nurahsa roh budi napsu, yèku kang nawa prana, dadya kêdhatoning widdhi, cangkramané kang mlinjung têngah bawana. 32. Samana Hyang Giri Nata, kondur angayangan sami, pra jawata wus bubaran, kunêng kang winarna malih, nuju dina sawiji, wau-[15]ta Bathara Guru, têdhak marang kaéndran, paring sasmita mring siwi, hèh yogèngsun sira kulup sumurupa. 33. Rèhning sira yoganing wang, kabênêr tuwa pribadi, tur ngong paringi kuwasa, nèng kaéndran angratoni, sagunging widadari, miwah pra jawata sagung, kabèh kawêngku sira, ping pindhoné ingsun nguni, wus dènsrahi Hyang Tunggal Asmaradana. ۩۩۩ PUPUH III ۩۩۩ ASMARADANA 1. Duk nguni sun arsa uning, warnanira Sang Hyang Tunggal, jêbul mangkana dhawuhé, hèh Guru yèn sira arsa, wêruh ing warnaning wang, ora susah putraningsun, wus nyamadi sabawana. 2. Ya warnanta iya mami, iya ika iya ingwang, kabèh iku padha baé, ing sandi kudu waskitha, mula mêngko ragèngwang, nglastarèkkên mring sirèku, mara kulup tampanana. 3. Kabèh ing pangyasa mami, padha kasraha ing sira, miwah jênêngira anggèr, amirita asmaningwang, ingsun ran Girinata, sira Éndra nata kulup, sira ya antaraningwang. 4. Ya sun antaranirèki, lir sato munggèng rimbagan, ananira ananingngong, ana ingsun ananira, ana sih kamurahan, tumitahing sira kulup, sun paring cipta sasmita. 5. Tarbukanên dipun aglis, kalawan ilaming driya, ulirên budimu anggèr, kèhé mung limang prakara, wiwitaning manungsa, ambêking surya puniku, [16] pindho ambêking bantala. 6. Kaping tri ambêking angin, ping pat ambêking samodra, ping lima langit ambêké, hèh babo dipun énggala, gêlarên kaanannya, aja was sumêlang kulup, ya sagaduging tyasira. 7. Bathara Éndra wotsari, jawab sualé kang rama, pukulun pamanggihingong, nênggih ingkang panca warna, punika sajatosnya, kêplasing sêmu pukulun, makatên ing warnènira. 8. Nanging ibaraté nênggih, wong mêrang tanpa landhêsan, mung saking pangintên baé, milamba nyuwun aksama, kalilana narbuka, ambêking surya puniku, kajênging among sanyata. 9. Wontênipun surya singgih, tansah prayitna waskitha, dènya ngulat – ulataké, dhumatêng isining jagad, mila inggih warata, nyoroti sajagad cukup, kang samar pêtêng katingal. 10. Wignya gêsangi sakalir, ingkang kêkêl – kêkêl bêncar, bongsa lêmês kiyat kabèh, langgêng adil salawasnya, tan kandhêg sambikala, sabên jam nêm nunggang gunung, ora lincat ing sêmaya. 11. Lênggah nèng têmêning Widhi, dunungipun nèng pramana, mila awas salawasé, tan sama isining jagad, pindho ambêking kisma, kamot momot sabar maklum, kêrat asih dunya murah. 12. Kabèh urip sining bumi, kang sinandhang lan pinangan, sing bumi kamurahané, déné asih ing akérat, [17] ngêmuli kèhing jaman, dènbuwangi tai uyuh, walêsé wèh sandhang pangan. 13. Mila suci ambêknèki, dumunung rêrêming rasa, têmah ayêm nora rongèh, ping tri ambêking maruta, uga waskitha jêmbar, waskitha sabarang kayun, nora kêna ginorohan. 14. Sanadyan kang rêmpit sungil, mêsthi kambah ing maruta, injên – injên pakaryané, akarya sêgêring angga, nèng éling lênggahira, nèng pangrasa dunungipun, tan lali salaminira. 15. Catur ambêking jaladri, mêngku kamot tadhah karsa, datan nyulayani raos, pahit gêtir kêcing sêngak, tan ana kang tinulak, yèku sabar lênggahipun, anèng budi dunungira. 16. Nora srèi nora jail, lima ambêking akasa, mung marma ing salawasé, anglimputi sabawana, cukup pamêngkunira, bapa kuwasa puniku, punika ambêk santosa. 17. Nèng pangandêl dunungnèki, datan watak kagimiran, kèndêl Hyang Éndra aturé, Hyang Guru kalangkung suka, jroning tyas ngalêmbana, déné wus wignya anyakup, mring jatining panca warna. 18. Bathara Guru lingnyaris, bangêt panarimaning wang, kabèh aturira anggèr, déné cocog kaanannya, samêngko tampanana, ana manèh sual ingsun, yèku catur purwa wanda. 19. Mara tarbukanên malih, ing sawiji – wijinira, kaya paran kaa-[18]nané, têtês titis putus tatas, ingsun arsa uninga, Bathara Éndra wotsantun, pukulun pamanggih amba. 20. Têtês gadhah raos yêkti, têgêsé sampun kababar, wus sampurna lampahané, rampung campur tunggil rahsa, woring gusti kawula, aliru papan tan klèru, aliru datanpa samar. 21. Lir surya lan sorotnèki, myang sato munggèng rimbagan, têtêp nguni pasêmoné, kang mlinjung têngah bawana, wus tunggal Hyang Sètmata, wus nunggal dadi sawujud, lan kang urip tanpa jiwa. 22. Titis têgêsipun singgih, mêlêng alingga bathara, angênani sajatiné, sanyata wus badan suksma, têtêp anèng suwarga, wus nunggal sarasanipun, ananging séjé pangrasa. 23. Tatas têgêsé puniki, têrus pêdhot artènira, nêrusi manênging batos, jatiné wus tanpa rêmbag, nyirnakkên sêsêbutan, kang sawang – sinawang iku, wus campur dadi satunggal. 24. Déné putus têgêsnèki, wus rampung saliring karya, wus tan ana rêmbug manèh, wus tan ana kang katingal, sirna kabèh gagasan, wus kêna ingaran cukup, ora luwih datan kurang. 25. Mung nêng êning rina wêngi, nèng ngarsanira ki gêsang, nikmat baé salawasé, têlas aturé Hyang Éndra, Hyang Guru sukèng driya, myang Rêsi Kanéka Sunu, gumujêng agandhèng asta. ۩۩۩ PUPUH IV ۩۩۩ KINANTHI 1. Langkung sukanirèng [19] kalbu, kanglingyé dènya miyarsi, déné tan ana kang lêpat, wijangé sawiji – wiji, nastiti mêlok tan siwah, kang nyawang lan kang ningali. 2. Hyang Girinata lingnyarum, mring Bathara Éndra malih, hèh kaki iku kawruha, bésuk iku bakal dadi, bêtuwah ing Tanah Jawa, agêmé para narpati. 3. Miwah sagung para nujum, pasthi ngidhêp kawruh iki, sing sapa wruh jatinira, surasa kang dèn rasani, ênggoning rahsa kang nyata, iku manungsa linuwih. 4. Pasthi wruh ing uripipun, sarta wruh ingkang nguripi, têtêping manungsanira, kudu ngawruhi kang mungging, tabangalan ngarsanira, kang sawang–sinawang kalih. 5. Ėlok samar wujudipun, tan jalu datan pawèstri, dudu wandu nora arah, tan manggon uripé suci, mlinjung têngah bawana , tanpa jiwa uripnèki. 6. Wus tan paé lawan ingsun, têtêp manungsa sajati,kosok bali kang tan wikan, marang pangéranirèki, uripé tan paé kéwan, tan bisa amor lan janmi. 7. Mula sira putraningsun, dadiya wawakil mami, ngong wênangkên ngukum ganjar, marang sagunging kumêlip, nanging kaki kawruhana, sanadyan sira wus luwih. 8. Masésa sakèhing ratu, ing tanah sabrang lan Jawi, kang kungkulan ing akasa, kang kasangga ing pratiwi, kabèh kawêngku ing sira, nanging élinga nak mami. 9. Babon ingkang para [20] ratu, nurbuwat wahyuning aji, kawêngku Wisnu Bathara, prajurit lanang ing bumi, musthikaning jagad raya, Bathara Wisnu linuwih. 10. Nadyan Suralaya kulup, yèn tininggal Wisnu mamring, tan ana prajuritira, mung Wisnu prajurit luwih, mula sira nadyan tuwa, jaluka kawruhirèki. 11. Aja pakéwuh nak ingsun, wêruha mring wahyu jati, jatining nugraha tama, Si Wisnu nguni wus dadi, muridé raja pandhita, jêjuluk Sri Ngusman Aji. 12. Iku pandhita pinunjul, lêlanasing Banisrail, dèn titisi Hyang Nur Cahya, mula sira aja sisip, angalapa kawruhira, Si Wisnu ingkang antuk sih. 13. Hyang Éndra putêk ing kalbu, wasana turira aris, kawula inggih sandika, pruwita kadang taruni, kirang pakèwêt punapa, éwa samantên déwaji. 14. Nadyan kuwalik pukulun, nanging anglampahi wajib, istiyar rahayuningrat, nanging yèn kaparêng singgih, pun adhi kadhawuhana, pinanggih nèng wisma mami. 15. Hyang Guru mèngsêm lingnyarum, luwih gampang iku kaki, nanging sira sumurupa, kuwasamu amung lair, Si Wisnu antuk nugraha, pangnyasané lair batin. 16. Bathara Éndra tumungkul, sang Hyang Guru gya nimbali, Bathara Wisnu wus prapta, wotsêkar lênggah ing ngarsi, jajar lan Bathara Éndra, Hyang Girinata nabda ris. 17. Hèh yoganingsun ki Wi-[21]snu, sira srasèhana ngèlmi, lan kakangira si Éndra, mrih golongé kawruh Jawi, lan sualé kakangira, tarbukanên dipun aglis. 18. Wiritna kang kongsi urut, jêr sira nguni kêmurid, marang sang raja pandhita, Ngusman Aji Banisrail, panuksmané Hyang Nur Cahya, yêkti sira wus mumpuni. 19. Sakathahing kawruh putus, wruh marang sandining gaib, martabat jêro lan jaba, sangkan paraning dumadi, panjêr uriping manungsa, kang langgêng ing awal akir. 20. Kang aran nyawa satuhu, kang ngêdhaton cupu manik, paran ing bénjang campurnya, iku patrapna kang yêkti, Bathara Wisnu tur sêmbah, pukulun kalamun mami. 21. Panca purwanda puniku, yèn saking pamanggih mami, tan paé lan panca cahya, déné têrangé kang yêkti, ambêking surya punika, dunungé paningal yêkti. 22. Déné ta pangwasanipun, waskitha sabarang kardi, sagêd wuninga ing pajar, suwung aranira singgih, yèn dalu padhangé sirna, sumusup pêpêtêng sami. 23. Mila ngagêsang puniku, yèn wus mêlèk pasthi guling, déné bumi ambêkira, dumunungé anèng daging, pangwasané datan siwah, murah dunya sih ing akhir. 24. Anganakkên wulu rambut, utawi sarining wiji, sadaya sami ngalêmpak, déné ta ambêking angin, dumunung wontên ing napas, panguwasanipun sami. 25. Lan angin satuhunipun, [22] pan dadi sarining urip, lawan têtalining gêsang, dédé kang amaha suci, déné ambêking samodra, dumunung ing rahsa yêkti. 26. Kuwasa wèh rahsa agung, miraos pêdhês lan asin, wignya ngiyêmkên sarira, rah warata angêbêki, ngagêsang sajatinira, uripé kungkum nèng warih. 27. Gantya langit ambêkipun, dumunung ing jasat yêkti, kaananing badan wadhag, raga sajabaning kulit, déné kanyataanira, kandhanging jagad pribadi. 28. Luguning langit puniku, kakandhang ing jagad jawi, déné kang catur purwanda, punika sayêkti sami, kalawan kang catur cahya, makatên dunungé nênggih. 29. Têtêp nyata têgêsipun, nèng cahya dunungirèki, maligéning gêsang kita, wignya babarakên sami, byar katon sami sakala, titis têgêsé sayêkti. 30. Nèng lésan ing dunungipun, mula pangucap puniki, kudu tètèh tan kênoncat, yèn oncat tumiba nisthip, tatas têgêsé punika, pamirêng dunungirèki. 31. Anganglongakên pangrungu, kudu trus saraosnèki, putus têgêsé paningal, déné wruh sawiji – wiji, ala bêcik kudu wikan, punika watoning adil. 32. Makatên suraosipun, kang panca purwanda yêkti, sami lan catur purwanda, ing mangké ulun mêwahi, ngaturi sual minangka, jangkêping sêdya sayêkti. 33. Makatên ing têmbungipu-[23]n, duk anèng sutamayèki, wontên têmbung catur warna, wingit singit sirung nênggih, jatmika sakawanira, lah punika kados pundi. 34. Bathara Éndra lingnyarum, dhuh yayi panêmu mami, baya mangkéné têgêsnya, wingit iku tan kaèksi, alingan mawa warana, tan gampang dinugèng ati. 35. Arang kang bisa anuju, kajaba janma linuwih, kang limpat tuk wahyuning hyang, déné singit nunggil kapti, padha tan kêna dinuga, tan katon gêlaring budi. 36. Awit sêpi ing panuju, ing karsa têmah mêdéni, sirung rungkut têgêsira, kumukusé napsu nênggih, akarya ribêting lampah, pêtêng têmah anyamari. 37. Nuwuhkên mirising kalbu, déné jatmika puniki, ênêng êning têgêsira, nora rongèh têtêg wani, yèn sinawang karya uwas, wasana ngrêsêpkên ati. 38. Patang prakara puniku, agêming para narpati, tan sabên janma uninga, Hyang Wisnu umatur malih, lêrês kang patang prakara, agêming para narpati. 39. Nanging mung lair pukulun, batinipun kados pundi, sagêdipun botên sêmang, mrih pitados lair batin, Hyang Éndra èmêng ing driya, wasana ngandika aris. 40. Yayi apuranta iku, pun kakang durung mrangguli, mêloké kang catur warna, mula babar pisan yayi, dumukên kênyatanira, liring dunungan puniki. 41. Supaya ngong mèlu wêruh, saking brêkahira yayi, Hyang Wisnu matur pra-[24]saja, wijining dunungan nênggih, wijangipun pan mangkana, wingit têgêsipun yêkti. 42. Guwaya ingkang tan sirung, têgês guwaya puniki, inggih sawarnining cahya, singit punika prihatin, myang napsu sajatinira, warnining urup sayêkti. 43. Sirung makatên liripun, jêjêring janggêrêng nênggih, janggêrêng awarni kantha, déné jatmika puniki, jinêm ing sajatinira, jinêm punika pamanggih. 44. Pamanggih thukuling sêmu, dadosé tan mindho kardi, nanging kajawi punika, wontên martabat kang luwih, pan inggih kawan prakara, aranipun lir puniki. 45. Liyêp ing sajatinipun, sampurnaning rah ing bénjing, yêkti sami dados cahya, layap punika ing bénjing, daging ugi dados cahya, lan luyut punika bénjing. 46. Sampurnaning balung sungsum, nanging yêktiné ing bénjing, inggih sami dados cahya, déné ta lêngit puniki, sampurnaning kulit kita, ugi dados cahya bénjing. 47. Makatên katranganipun, kulit sayêkti yèn dadi, cahya cêmêng déné êrah, bénjing dados cahya abrit, déné daging dados cahya, kang warna kuning dumêling. 48. Sampurnané ingkang balung, dados cahya pêthak pasthi, cahya ingkang catur warna, punika sumrawung nênggih, ingkang dados pancadriya, lajêng sumusup ing bénjing. 49. Mring pancamaya satuhu, cahya wau nulya dadi, u-[25]rub siji astha warna, nulya dadi pancawarni, lajêng dados cahya muncar, mancur nuntên dados malih. 50. Cahya mancorong kadulu, nuntên dados cahya wêning, tan dangu gya dados cahya, gumilang – gilang kaèksi, gumilang tanpa wayangan, ing ngriku wontên kaèksi. 51. Hèh gumêbyar kadi daru, myang mèmpêr kang kilat thathit, ngasorkên sakèhing cahya, cahya sirna sadayèki, nunggil dhatêng hèb sadaya, campuring kawula gusti. 52. Wus tan was sumêlang kalbu, tan nilar bathang ing bénjing, balung daging kulit êrah, wus sirna dadi sawiji, mulih marang hèb sadaya, mung maligi ingkang kèri. 53. Jantung sapanunggalipun, iku kabèh padha nitis, dadi wijining manungsa, bola – bali nuskmèng janmi, yèku sajati kang aran, amoring kawula gusti. 54. Têlas Hyang Wisnu turipun, Hyang Éndra suka tan sipi, myarsa kang rayi turira, wasana ngandika aris, hèh yayi paran yêktinya, jinising alus kang yêkti. 55. Ngrêrisik wadhag puniku, paran antêpira yayi, nyata tan kabalisura, Hyang Wisnu turira aris, kados botên yèn wangsula, margi wus kodrating Widhi. 56. Witing wadhag saking alus, mirit ujar kang sayêkti, kang wus dadi cap – ucapan, ananing sir catur warni, bumi gêni angin toya, pan punika urut saking. 57. Ala-[26]m wadhag asalipun, sumusup mring alus yêkti, makatên wêdharing kantha, mênggah lêngipun kang bumi, dados wujud badan kita, gêni napsu déné angin. 58. Napas kadadiyanipun, banyu dadi rahsa yêkti, punika dados pratandha, gêsang ing dunya puniki, alus angwontênkên wadhag, saking toya ingkang kriyin. 59. Kaananing rahsa tuhu, rahsa têgêsé kang yêkti, krasa sarèh ing ngagêsang, krêntêg anganakkên singgih, napsu dénapsu punika, ngwontênakên napas singgih. 60. Napas anganakkên iku, raganing manungsa yêkti, mila kamulyaning badan, punika kang kalong dhingin, lajêng napas inGkang suda, lajêng rah suda nututi. 61. Nulya rêrêm nêpsunipun, anulya ngracut kang jisim, ngukut praptaning kasidan, nanging kang tanduk pratitis, pangangkah sarta pangarah, sampun ngantos pindho kardi. 62. Nanging yèn pamanggih ulun, sadaya kawruh puniki, sagêdipun kalêksanan, kanyataan ing pangèsthi, mung kanthi wani lan tatag, ring batin gêlêm nglakoni. 63. Yèn sampun sagêd anggayuh, mantêp têtêg kêndêl wani, nyirnakkên sênêning driya, mung nyiptaa kang dèn apti, kados punika wus cêkap, ringkêsaning kawruh jawi. 64. Mênggah gatining kang ngèlmu, punika sampun nyêkapi, déné kang rungsit pu-[27]nika, êmpan papaning pambudi, patrap lan trap pancèn gawat, arang kang sagêd kawijil. ۩۩۩ PUPUH V ۩۩۩ M I J I L 1. Sang Hyang Éndra wau duk miyarsi, kalangkung cumêmplong, kaananing martabat dunungé, wignya têrang ing sawiji – wiji, sandining Hyang Widhi, myang sandining kawruh. 2. Lagya éca wawan sabda kalih, kasaru kang rawoh, Hyang Pramèsthi alon andikané, hèh yogèngsun paran kang pinanggih, gonmu gunêm kawis, putra kalih dhêku. 3. Sang Hyang Wisnu tumungkul èsmu jrih, Hyang Éndra turnyalon, dhuh pukulun putranta yêktiné, yayi Wisnu pinunjul ing bumi, bawana tan kalih, mung Bathara Wisnu. 4. Pan sadaya sandining kang ngèlmi, sadaya pan mêlok, cipta sasmita kawêngku kabèh, étrap – patrap mêmpaning pangèsthi, wus tan madal sumbi, ing kayêktènipun. 5. Wontên malih pamanggih linuwih, kawula pan kasor, botên nyimpang ing sangkan parané, kabèh kawruh mawi tandha sêksi, pra jawata sami, sor lan yayi Wisnu. 6. Putra tuwan tuk nugraha jati, kawruhé kinaot, mèngsêm nabda Hyang Guru angawé, mring Hyang Wisnu sowan manganjali, hèh Wisnu sirèki, wus pinasthi lamun. 7. Pan rumêksayu isining bumi, sagung para katong, kang mbêk murka sirna déning kowé, nadyan para jawata ing bénjing, sira kang nulungi, yèn nêmu pa-[28]kéwuh. 8. Lan samêngko sumurupa sami, karo putraning ngong, ananira ana ingsun kiyé, mula sira sisiliha nami, ingkang nunggal kapti, lan sêbutanipun. 9. Ingsun asma Sang Hyang Sidha Jati, marga jênêng ingong, kang ingaran kaanan jatiné, déné sira sisiliha nami, Hyang Supadya Jati, wit sira wus mêngku. 10. Mring jatining pangupaya yêkti, si Wisnu naking ngong, jêjuluka Narayana mangké, marga sira wus lêpas ing budi, tan samar sarèhing, putra kalih nuwun. 11. Wusnya dhawuh wau Hyang Pramèsthi, gya mukswa tan katon, pra jawata gya bubaran kabèh, Sang Hyang Éndra wus manjing jro puri, ing kaèndran adi, Hyang Wisnu wus kondur. 12. Angêdhaton anèng têpêt suci, alam kang kinaot, nikmat baé iku salawasé, sing sapa wruh sandining Hyang Widhi, sayêkti yèn bangkit, manggon alam luhung. 13. Sastra jéndra hayuningrat iki, atêgês kinaot, sastra iku têmbung lan swarané, jén puniku atêgês sawiji, dra: bawana yêkti, sumêbar déné yu. 14. Kaslamêtan rat têgêsirèki, jagad kang kinaot, iku glagating kaanan kabèh, kawitaning kang sahadad jati, sanyata sayêkti, langgêng uripipun. 15. Têmbung sadad têgêsé [29] kang yêkti, nuduhkên mrih wêroh, urip kudu méruhi mring daté, dad wuntêlak lan dad maha suci, kaping tri kang suci, dad kang maha luhur. 16. Duk nalika Hyang Éndra nampani, sasmita kang kaot, saking Sang Hyang Guru wêwarahé, kabèh urip yèn wus nguningani, wahana kang yêkti, sayêkti rahayu. 17. Ayuningrat slamêt uripnèki, sabarang kinaot, sastra cêtha wus kacakup kabèh, sastra cêtha wus tan mindho kardi, paham marang gaib, mardikèngrat luhung. 18. Kang mangkana musthikaning janmi, sarjana kinaot, wus tan samar marang lêlakoné, wruh ing osik pangandika yêkti, nèng rahsa sajati, têtêpé Hyang Agung. 19. Mula para naréndra sru mingit, tan kêna kêbrojol, mung pandhita kang gêntur tapané, iku lamun antuk sihing Widhi, nugraha sajati, iku pasthi mêngku. 20. Lamun datan kanugrahan jati, tinarimèng Manon, pan kasiku tuk walak uripé, mèt kawruhé jawata linuwih, kang tan madal sumbi, kanyataanipun. 21. Kèh godhané ing saari – ari, rêncana kang katon, karya jugar sabarang panggawé, pama wiji sinêbar nèng wukir, lêmah padhas garing, paran goné thukul. 22. Yêkti mati sirna tanpa dadi, iku isbating wong, kabèh janma kang dudu bênêré, anampani sihing [30] maha suci, dèn dumukna kongsi, jêglug bathukipun. 23. Mangsa dadak wêruha ing gaib, rasané tan kraos, mula babar wêjangan aglahèng, nganggêp rèmèh tuduhé sang rêsi, dilalah wus takdir, wong cilaka muput, 24. Duk Hyang Guru bantah lan Sang Rêsi, Nurada kang kaot, buka kawruh gaib kang linuwéh, Hyang Pramèsthi sor titih kang ngèlmi, anulya nimbali, sagung para sunu. 25. Myang pra déwa nayaka tan kari, sadaya wus caos, Hyang Pramèsthi dhawuh nocokaké, kabèh kawruh ywa kongsi pradondi, sangkan parannèki, cocogna kang rujuk. 26. Kang ingaran ngèlmu kang sajati, ywa nganti tan jumboh, lah rungokna iki kayaktèné, ingkang tuwa cahya banjur gêni, bantala lan angin, samodra kang kantun. 27. Aturira Hyang Kanéka Siwi, punika tan cocog, yèn makatên sayêkti badhéné, mangran dhatêng kaanan kang kèksi, cilaka yèn manjing, mring téja kêkuwung . 28. Tatkalané awang – uwung misih, ing panawanging ngong, sampun wontên suwara yêktiné, kadi gêntha kêkêlèng kapyarsi, kagyat Hyang Pramèsthi, mundhut jablasipun. 29. Hyang Nurada mêdharkên kang ngèlmi, pukulun sang kaot, pan sagunging kaanan yêktiné, ngèsthi dhatêng kasantosan nênggih, déné sêksi mursit, manungsa pukulun. 30. [31] Wit jagadé manungsa puniki, yêkti datan kaot, lawan jagad kang dèn ambah kiyé, mila tuduhipun guru mami, cahya dèrèng lair, swara wus kêprungu. 31. Yèku gêntha kêkêlèng wus muni, makatên kang yêktos, swara iku nyawa sajatiné, gêntha iku kontha kang sêjati, kontha samar wingit, élok jatinipun. 32. Ėlok iku sajatining gaib, gaibing Hyang Manon, yèku nganggo sasandha dadiné, nyatanira tan rupa tan warni, yèn ngandika nênggih, tanpa lésan muhung. 33. Bawa aganda tan grana yêkti, muhung munya kaot, pirsa tanpa nétra sajatiné, muhung waskitha yèn mirêng nênggih, tanpa karna yêkti, muhung wisésagung. 34. Yèn angraos tanpa rahsa yêkti, pan muhung pangraos, kosok wangsul punika yêktiné, purwanira ana iku saking, ora têgêsnèki, witing lair iku. 35. Saking batin witing ramé saking, ênêng kang sayêktos, witing gumlar sing suwung yêktiné, nanging sampun ngantos salah dalih, babasaning ngèlmi, ngidhêp swara iku. 36. Mangran marang kumandhang wosnèki, sirik kang mangrêtos, yèn nampika lan milih yêktiné, lamun nampik punapa ing bénjing, kang ginêlar sami, anuli ginulung. 37. Yèn miliha punapa durung wrin, sadaya kang katon, kaanané sangking gai-[32]b kabèh, sampun ngantos korup lir cah cilik, ngurubana nuli, cêkap atur ulun. 38. Bab dunungé pangèsthi sajati, iku dèn waspaos, titi tamat Hyang Nurada turé, sukèng driya Hyang Jagad Pramèsthi, myarsa sorahnèki, nyêngkut datan mungkur. ۩۩۩ PUPUH VI ۩۩۩ PANGKUR 1. Wau ta Hyang Jagad Nata, sanalika rumaosing Pangèsthi, ing batin sêdya agayuh, nglêluri lêlakonnya, Hyang Atma mangratoni manungsa sagung, ingkang asma Hyang At Hama, yèku Nabi Adam nguni. 2. Hyang Guru aris ngandika, mring pra déwa myang sagung para siwi, padha usula ing rêmbug, nyatané kawruh mulya, Hyang Basuki wotsari alon umatur, inggih lêrês dhawuh tuwan, mêlêng dununging pangèsthi. 3. Kang pinurwa dèrèng nyata,caritané duk Déwi Rukmawati, hyang kang murba gaib iku, nguni amurwèng gita, nur rohkyati têgês cahya urip iku, gya murwa sir catur warna, bumi gêni angin warih. 4. Dadya ananing manungsa, dhingin gêni dadi napsu sayêkti, martandhani cahya catur, bang irêng kuning séta, pindho bumi dadi badan kasar iku, mratandhani cahya papat, sungsum balung daging kulit. 5. Tri angin kaanan napas, dumunungé uga kawan prakawis, lésan grana nétra iku, ping paté anèng [33] anèng karna, gantya banyu kaananing roh puniku, kang muni ing jitabsara, asrar lawan roh jasmani. 6. Pindho roh kéwani ika, roh nabati caturé roh nurani, kèndêl wau aturipun, Hyang Basuki wotsêkar, gya Bathara Panyarikan nêmbah matur, dhuh pukulun yèn kawula, wontén pêcahipun malih. 7. Wontên pasêmoning suksma, pralambangé winor kalawan gaib, nèng sastra catur swarèku, a o i rê uninya, myang carakan nglêgêna sabacutipun, iya kang ha na ca ra ka, lan pasanganipun sami. 8. Wijangipun ha punika, angka papat pasangan sa puniki, wijining manungsa tuhu,saking patang prakara, ba dèncêrêg uniné bali puniku, wa kang nganggo pasangan da, wit da katingal sayêkti. 9. Déné pa dèncêrêg ngandhap, darbé karêp aja antara singgih, ha na ca ra ka puniku, iku têgês kongkonan, balik ka ra ca na ha têgês iku, iya pacuping neng lèsan, da ta sa wa la puniki. 10. Dat kang katandha ing swara, yèn dènwalik salawasé puniki, pa dha ja ya nya puniku, ubaling pancadriya, rêbut unggul nya ya ja dha pa puniku, tan pêgat pangidhêpira, ma ga ba tha nga puniki. 11. Aran sarira pêthékan, yèn dènwalik nga tha ba ga ma singgih, ngondha satata puniku, awit antaranira, kang pinurwa wontên manungsa satu-[34]hu,bab pasangan tan winêdhar, wus kapacak duk ing nguni. 12. Nèng layang panca prabawa, gantya Sang Hyang Éndra pamanggihnèki, panthênging cipta puniku, riningkês catur warna, ênêng – êning awas éling pan wus cukup, dumadining madi ika, saking kantha warna ênggih. 13. Ambu rahsa kapatira, pangracuté si rahsa ambu warni, lan kontha wangsul dumunung, mring nukat gaib ika, pan ingaran warih prawitadi iku, ingkang warih tata darma, gantya Hyang Wisnu turnèki. 14. Marang Hyang Jagad Pratingkah, pamanggihnya Hyang Éndra lan pra rêsi, punika lêrês sadarum, prakawis panggêlarnya, pangringkêsé sayêkti yèn masih luput, margi asaling manungsa, saking hèb tumurun dadi. 15. Cahya sumunar sajuga, wujud agni nur Alah lawan malih, angin rubiyah puniku, tiga toya sirolah, kapatipun bumi datolah puniku, dumunung ing jasad kita, ruh kita lan gêsang mami. 16. Mawas ing panca purwanda, kêmpalipun kawula lawan gusti, wus nir ing sakalihipun, liru rupa tan samar, liru ênggon kalihé wus datan klèru, ulêng nèng jroning hèb ika, wus langgêng salawasnèki. 17. Têlas Hyang Wisnu aturnya, Hyang Pramèsthi langkung sukaning galih, miwah Hyang Kanéka Sunu, langkung marwata suta, wit Hyang Wisnu condhong lan panêmunipun, mung sagung para jawata, ngrasa wus bê-[35]nêr kang ngèlmi. 18. Samana sami bubaran, Sang Hyang Guru kondur lan para siwi, myang sagung para déwagung, bêdhol marang Kayangan, titi tamat surasané srat linuhung, sastra jéndra hayuningrat, myang sastra cêtha wus ênting. 19. Wus jumênêng mardikèngrat, marma para sarjana kang mumpuni, angréka prêlambang baut, pasêmon kang sinamar, têmbung asma Allah tan sing ilahiku, tanpa atêr – atêr barang, mundhak sulaya ing pikir. 20. Mung kudu sinêbut Allah, wit dad sipat asma apêngal nênggih, sabên dad nèng sipatipun, sabên sipat nèng asma, sabên asma yêkti nèng apêngalipun, tumêka satus tridasa, marga dèn basakkên nênggih. 21. Nora jaman tanpa mangan, têgêsipun tan arah tan wismèki, tanpa kondha warna iku,nirgonda rasasmara, sipat élok nora wadon datan kakung,lan tan wandu pêrlambangnya, pan kadya ngisor puniki. 22. Kombang angajab ing tawang, jro martabat latakyun ingkang muni, wit lan akaananipun,yaiku nyataning dad, tanpa tuwuh nyrambahi ing gêsangipun, nênggih uripnya priyangga, gantya patsal kaping kalih. 23. Kusuma hanjrah ing tawang, gih punika kayuning kang tohjali, tajalining dad satuhu, wit iku kasorotan, purbaning dad sajati pêrlambangipun, kusuma hanjrah ing tawang, kasêbut martabat muni. 24. [36] Takyun awal wit sanyata, ananira ganti patsal kaping tri, tunjung tanpa têlagèku, yèku nur kang minangka, tohjalining kayu dadi sasondha gung, ya sasandhaning ngagêsang, awit kasorotan saking. 25. Iya wisésaning asma, kang sajati déné pêrlambangnèki, tunjung tanpa têlagèku, têgêsé sêkar tara, ya taraté urip ora anganggo banyu, mila ing dalêm martabat, pan sinêbut kayun sani. 26. Déné ta sampun sanyata, ing kaananira kang takyun sani, punika ing têgêsipun, ping pindho ing nyatanya, gantya patsal kang kaping pat gancaripun, isiné kang wuluh wungwang, punika sajatining sir. 27. Tohjalining nur punika, kasorotan saking ing wisèsaning, pranawa sajati iku, dèn pêrlambangi ika, isinira wuluh wungwang têgêsipun, mapan botên kawistara, sining wuluh wungwang singgih. 28. Mula ing dalêm martabat, pan sinêbut lapalé takyun akir, akyan sabitah puniku, hèh babo dèn waspada, urip iku lawas – lawas banjur lampus, mangka tan wruh sangkan paran, dununging kawula Gusti. 29. Lan dunungé uripira, pasthi durung wêruh ingkang nguripi, kang dhêlog – dhêlog nèng ngayun, uripé tanpa jiwa, rina wêngi nèng ngarsané nora wêruh, andèkpun alangak – langak, [37] kaya putra dwarawati. 30. Bêranyak lir Radèn Samba, kêthok godhèg alisira dènkêrik, yèn lumaku adol bagus, nanging ina pikirnya, mripat picak wurung wruh mring pangranipun, yèn mati tan paé kéwan, luwung kéwan dagingnèki. 31. Ėnak kalal yèn dènpangan, balik bathanging janma kang tan ngèlmi, bosok koklok anglir kuwuk, gandané bêlarungan, karya gigu warisé dhéwé tan arus,wêdi nyêdhak nora tahan, béda patiné wong ngèlmi. 32. Gandané sêdhêp tur datan, amêdèni marang kang para waris, marga duk urip wis tutur, kalamun arsa pêjah, ping pindhoné bisa wruh ing asalipun, misah kulit daging êrah, myang balungé sirna sami. 33. Padha bali dadi cahya, jroning kubur kothong tan isi jisim, mangkana janma pinunjul, wikan ing sangkan paran, wruh uripé mangéran dad maha luhur, bisa ngêrèh jantung manah, wruh jiwa kang durung nitis. 34. Sarta bisa liru lambang, ganti jiwa saking tuwajuh yêkti, pangrèhé saking tuwakup, wêruh sakèh drubiksa, bisa nyipta kang sinêdya bisa rawuh, mangkana janma utama, tuman tumanêm ing sêpi. 35. Wruh marang sêmuning suksma, gonah marang pangéran maha suci, kulina dad maha luhur, mêngku kang asma warna, têtêp dadi wêwayanganing Hyang Agung, iya [38] ingsun iya suksma, ya pangéran iya mami. 36. Mangkana janma katrima, uripira mung suka kang pinanggih, patiné kramaté agung, turuné manggih arja, titi tamat ping tri dasa sura nuju, alip angkaning kang warsa, mantri papat ngèsthi aji. (1) Serat punjer kawitan ialah sebuah ajaran tentang silsilah raja-raja Jawa, adipati-adipati Jawa Timur, dan penduduk Jawa. Dalam kitab ini mengajarkan bahwa orang Jawa adalah keturunan Adam dan Pandawa yang berhak mewarisi pulau Jawa dan Belanda bukanlah merupakan keturunan dari Adam dan pandawa sehingga tidak memiliki hak tersebut. Dapat dikatakan bahwa ajaran ini secara simbolik ialah sebuah ajaran orang Jawa untuk mencintai tanah airnya. (2) Serat pikukuh kasejaten Sebuah ajaran tentang tata cara dan hukum perkawinan masyarakat Samin. Membangun keluarga merupakan sarana kelahiran budhi yang menghasilkan atmajatama (anak yang utama). Rumah tangga berlandaskan kukuh demen aji (kokoh memegang janji). (3) Serat Uri-uri Pambudi Ajaran tentang perilaku seperti * Angger pratikel (hukum tingkah laku) * Angger pangucap (hukum berbicara) * Angger-angger lakonono (hukum yang harus dijalankan) (4) Serat Jati Sawit Ajaran tentang kemuliaan hidup sesudah mati seperti: Becik ketitik, olo ketoro, sopo goroh bakal gronoh, sopo salah seleh (yang baik dan yang jelek akan kelihatan, siapa yang berdusta akan nista, siapa yang bersalah akan kalah). (5) Serat Lampahing Urip Berisi tentang primbon seperti: Kelahiran, Perjodohan, Hari baik untuk setiap kegiatan Paham Saminisme dinamakan “Agama Nabi Adam”. Ajaran Saminisme yang terwariskan hingga kini sebenarnya mencuatkan nilai-nilai kebenaran, kesederhanaan, kebersamaan, keadilan, dan kerja keras. Sedangkan konsep ajaran Samin ada 6 ajaran yaitu: 1. Tidak bersekolah 2. Tidak memakai peci, tetapi memakai iket yaitu semacam kain yang diikatkan di kepala mirip orang Jawa zaman dahulu. 3. Tidak berpoligami 4. Tidak memakai celana panjang, dan hanya pakai celana selutut 5. Tidak berdagang 6. Penolakan terhadap kapitalisme.

http://alangalangkumitir.wordpress.com/2011/07/01/serat-sastra-jendra-hayuningrat/SASTRA-JENDRA-SEBAGAI-AJARAN-SINENGKER-RAHASIA